POTRET NEGERI: Ritual Minta Hujan dengan Ujung Rotan

Budaya,JAKPOS Terdiri dari 1.340 suku bangsa, membuat Indonesia memiliki seabrek warisan budaya. Bahkan, tidak sedikit pula yang kini diklaim negara tetangga. Semakin memudarnya kesadaraan masyarakat untuk melestarikan, menjadi penyebabnya.

Namun tidak bagi warga Dusun Banjarsari, Desa Banjaragung, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kendati tergolong ekstrem dan harus menerima rasa sakit, hingga kini warga terus melestarikan tradisi peninggalan nenek moyang itu.

Tradisi itu adalah ritual meminta hujan. Warga di dusun ini, memiliki tradisi yang cukup unik namun juga ekstrem untuk meminta agar turun hujan. Bukan dengan Salat Istiska, melainkan dengan menggelar kesenian tradisional Ujung.

Siang itu, selepas Salat Dhuhur, ratusan masyarakat mulai memadati halaman salah seorang warga di dusun setempat. Tua-muda, laki-perempuan, tumpah ruah di halaman rumah berlantai tanah. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri, membentuk sebuah lingkaran mirip kalangan (tempat bertanding).

Tak lama, seorang sesepuh dusun berdiri tepat di tengah lingkaran kerumunan warga. Sebuah ember berisi beras kuning (beras yang direndam menggunakan kunir), tampak nangkring di tangan kirinya. Sementara, mulutnya komat-kamit melafadkan doa.

Bunyi gamelan mulai ‘memenuhi’ daun telinga. Sang tetua dusun atau yang disebut kumelandang, lantas menari mengikuti irama yang ada. Pria setengah baya itu melenggak-lenggok di tengah kerumunan warga. Sembari sesekali, menebarkan beras kuning yang sebelumnya sudah dimantrai doa.

Selang beberapa saat, dua orang bertelanjang dada masuk ke arena panggung terbuka. Sebatang rotan di tangan menjadi satu-satunya senjatanya. Keduanya menari mengikuti irama musik gamelan, alat musik masyarakat Suku Jawa.

Kendati terus melenggak-lenggok, namun keduanya tetap dalam kondisi waspada. Sabetan rotan bisa dengan cepat mendarat di tubuh mereka, jika lengah sedikit saja. Lalu tak lama, cetar! Bunyi sabetan rotan mengenai punggung salah satu peserta.

Begitupun seterusnya. Setiap peserta mendapat jatah memukul dan dipukul sebanyak tiga kali secara bergiliran. Luka memar dan darah yang mengucur akibat sabetan rotan itu tak lantas membuat mereka naik pitam. Mereka justru tertawa meski sedikit menahan rasa perih.

“Tradisi Ujung ini dulunya digunakan nenek moyang kita untuk meminta hujan. Awalnya, petani di desa ini kesulitan air karena kemarau panjang. Dari itu kemudian beberapa warga melakukan adu tanding cambuk menggunakan rotan, hingga terjadilah kesenian ini,” kata Kumelandang Kesenian Ujung, Rony Kurniawan, Minggu (15/10/2017).

Rony lantas bertutur. Kendati berada di panggung bebas, namun ada banyak aturan di dalam ritual ini. Mereka yang mengikuti kesenian saling cambuk ini, tidak diperbolehkan untuk memukul bagian leher, kepala dan bawah perut.

“Satu peserta boleh ikut beberapa kali. Namun, tetap dalam pantauan Kumelandang. Jika kodisinya sudah parah, tidak akan diperbolehkan. Ini untuk menjaga, agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dikemudian hari,” tutur pria yang kini berusia 46 tahun ini.

Menurut Rony, tidak ada menang dan kalah dalam ritual adu cambuk rotan ini. Semua yang masuk ke panggung terbuka, akan mendapatkan imbalan berupa uang. Uang tersebut merupakan iuran dari warga seluruh dusun dan beberapa dermawan.

“Besarannya tergantung aksinya. Kalau seru dan bagus, masing-masing mendapat Rp30 ribu, kalau biasa-biasa diberi Rp20 ribu. Itu bukan hadiah, tapi semacam obat untuk mereka,” terang Rony.

Konon, tradisi meminta hujan ini sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam oleh nenek moyangnya. Bahkan disebutkan, ritual meminta hujan yang dilakukan warga, menjadi salah satu cara petani membantu pejuang pasca-kemerdekaan.

Memang, lokasi Dusun Banjarsari, Desa Banjaragung ini sangat strategis. Sebab, hanya berjarak 2 kilometer dari hutan Bareng yang menyambung dengan hutan Wonosalam yang notabene merupakan jalur gerilya para pejuang saat merebut Surabaya dari penjajah.

“Katanya orang tua, saat perang itu banyak pejuang yang nimbrung saat ritual ini dilakukan. Jadi ritual ini digunakan untuk kamuflase agar mereka bisa keluar dari hutan dan mengambil pasokan pangan yang disiapkan warga dusun ini,” paparnya.

Maka itu, Rony dan warga setempat akan terus berupaya untuk melestarikan tradisi meminta hujan dengan menggelar kesenian Ujung ini. Kendati saat ini tradisi itu hanya dilakukan setahun sekali. Namun untuk melestarikannya, tak jarang warga menggelar kesenian ekstrem itu saat hajatan atau sedekah desa.

Sementara itu, salah seorang warga mengaku sangat senang mengikuti tradisi ekstrem itu. Kendati ia sendiri tak menampik, jika memar dipunggungnya akibat sabetan rotan lawan, terasa begitu sakit.

“Sakit memang dan harus kena sabetan. Kalau tidak kena justru tidak enak. Karena ini merupakan tradisi, dan jarang-jarang dimainkan. Kalau darah yang keluar lebih banyak dipercaya hujan akan cepat turun,” kata Musripan.

Musripan mengaku sudah berkali-kali mengikuti tradisi ini. Bahkan sejak dirinya masih berumur belasan tahun. Lantaran sang ayah juga kerap kali menjadi salah satu petarung kesenian cambuk rotan ini.

“Sudah puluhan tahun. Sejak dulu sudah ikut, bahkan dulu sempat melawan bapak juga. Meskipun terluka, tidak ada dendam. Kalau sudah selesai ya sudah, tidak boleh dibawa ke luar arena,” pungkas bapak tiga anak ini.(Red/oz)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pedoman Media Cyber | Redaksi | JAKPOSNEWS Diterbitkan : PT. Naga Media Cipta