Teori Terapi Plasma Cara Alternatif Penyembuhan Pasien Covid-19

Bekasi, Home1138 Dilihat

Bekasi,JN-Teori terapi plasma konvalesen kini semakin populer di masyarakat. Cara ini dipercaya sebagai salah satu alternatif penyembuhan pasien Covid-19.

Donor plasma ini dengan mentransfer antibodi yang terdapat dalam plasma darah penyintas infeksi kepada pasien yang sedang mengalami infeksi tersebut.

Alternatif penyembuhan ini pun langsung dijawab Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bekasi, Ade Puspitasari. Dia menyatakan dukungannya untuk menyediakan alat transfusi plasa konvalesen di Kota Bekasi.

“Insya Allah, awal Februari alatnya sudah ada. Pokoknya kami akan usahakan,” janji Ade.

“Terapi penyembuhan ini memang sedang menjadi pembicaraan. Apalagi, permintaan untuk plasma konvalesen semakin banyak dari warga. Maka kami ingin berkontribusi agar upaya penyembuhan pasien covid-19 bisa semakin cepat,” lanjut dia.

Mahalnya harga alat untuk penyediaan plasma konvalesen menjadi kendala untuk mengembangkan plasma yang disebut untuk terapi pemulihan pasien Covid-19.

“Tapi, nyawa manusia tak ternilai. PMI Kota Bekasi harus mampu menyiapkan alat itu karena dianggap efektif menyelamatkan nyawa penyintas Covid. Jangan sampai nyawa terus melayang karena dihajar Covid,” tegas Ade.

Ade mengatakan, di Bekasi sendiri baru ada beberapa unit transfusi darah (UTD) yang memiliki alat yang disebut apheresis untuk memisahkan antara darah dengan sel plasmanya.

“Ada banyak keluarga pasien yang datang mencari plasma konvalesen. Namun kemarin-kemarin di kami belum bisa. Dalam waktu dekat ini sudah bisa,” kata Ade.

Ade mengadu, belakangan memang cukup banyak keluarga pasien Covid-19 yang datang untuk mencari informasi tentang ketersediaan plasma konvalesen.

“Plasma konvalesen secara teori menjadi cara meningkatkan antibodi penderita Covid-19. Meskipun saat ini masih uji tahap tiga, namun banyak testimoni yang menyatakan berhasil,” ujar dia.

Dia menjelaskan, pendonor plasma konvalesen adalah penyintas Covid-19 yang sudah dinyatakan sembuh dengan hasil uji swab negatif. Namun diketahui alat apheresis tersebut cukup mahal mencapai miliaran rupiah.

Selain sedang mengupayakan alatnya, kata Ade, PMI Kota Bekasi juga sedang menghimpun data para penyintas Covid-19 yang telah sembuh beserta golongan darahnya.

Untuk dipahami, terapi ini sendiri dilakukan dengan menyuntikkan plasma darah pasien terdiagnosa covid-19 yang sudah sembuh dan tidak timbul gejala selama 14 hari setelah dinyatakan sembuh.

Meski begitu, proses donor plasma konvalesen ini berbeda dengan donor darah pada umumnya. Sebab, hanya plasma darah saja yang dibutuhkan. Sehingga, diperlukan alat khusus untuk dapat menyediakan untuk didistribusikan kepada pasien covid.

Bagaimana cara kerja terapi plasma darah konvalesen?

Terapi plasma darah konvalesen diberikan dengan cara mengambil plasma darah yang mengandung antibodi dari donor.

Kemudian, antibodi tersebut ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan.

Sementara itu, Kemenkes menyebut pasien COVID-19 bisa mengikuti uji klinis setelah memenuhi beberapa syarat. Di antaranya:

Usia minimal 18 tahun.

Dalam perawatan dengan gejala sedang yang mengarah ke berat.

Mau dirawat minimal 14 hari.

Golongan darah pendonor harus sama dengan penerima.

Mengikuti prosedur dan tahap-tahap penelitian.

Berikut kriteria penerima terapi plasma konvalesen:

Pasien COVID-19 harus memiliki gejala sedang hingga berat, atau mengalami kondisi gawat darurat.

Pasien memiliki riwayat kesehatan yang bisa memperburuk kondisi COVID-19, terutama mereka yang sudah memiliki kondisi gawat darurat.

Orang tanpa gejala (OTG) tidak masuk dalam kriteria penerima terapi plasma konvalesen. Mereka yang OTG hanya wajib melakukan isolasi mandiri di rumah, guna menekan penyebaran COVID-19.(Rez/Pjb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *