Putih Sari Berikan KIE Bersama BKKBN Jawa Barat Di Purwakarta

Home, Jabar629 Dilihat

Purwakarta,JN – Anggota Komisi IX DPR RI, Putih Sari dalam rangka memberikan penyuluhan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) bersama BKKBN Jawa Barat,kali ini sasarannya ke wilayah Desa Citeko, Kecamatan Plered , Kabupaten Purwakarta,Senin (18/9/2023).

KIE yang dilakukan Putih Sari tetap pada persoalan Stunting di Jawabarat,khususnya wilayah Kabupaten Purwakarta. Dimana angka kasus Stunting di Jabar tetap harus diupayakan semakin turun angka kasusnya. Oleh karena itu dirinya mengajak masyarakat untuk mencegah Stunting dengan cara selalu memberikan konsumsi makanan bergizi pada balitanya.

Katanya,makna makanan bergizi itu tidak harus mahal, namun mudah diperoleh bahkan murah harganya, sehingga dapat terjangkau, sehingga keluarga sejahtera bisa memperoleh.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa pencegahan stunting berlaku bagi ibu hamil hingga anak usia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Stunting,bukan hanya soal tinggi badan, tapi pertumbuhan otak atau kecerdasan agar kelak bisa bersaing secara global.

“BKKBN menargetkan mampu menurunkan angka Stunting 14 persen pada 2024 bahkan kalau bisa zero stunting. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mencegah lahirnya bayi stunting,ibu hamil harus mengkonsumsi makanan bergizi, jangan makanan-makanan tidak sehat” ujar Putih Sari.

Dikesempatan lain,Ketua Tim Kerja Pengelola Pelayanan Keluarga Berencana Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat,Adang Samsul Hadi, mengajak para ibu hendaknya selalu memperhatikan makanan yang disajikan dalam keluarga guna mencegah stunting.

Selain itu cara lain yang penting dilakukan untuk mencegah bayi stunting adalah dengan alat atau obat kontrasepsi, dengan menjadi akseptor Keluarga Berencana (KB). Ia mengatakan Program KB memberikan kesempatan kepada ibu memberikan pengasuhan optimal dan memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif.

“Perlu diingat juga bahwa KB tidak hanya menjadi tugas istri. Jika istri berisiko mengalami efek samping, maka pria juga bisa menjadi akseptor KB. Pria bisa menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi atau melalui Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi,” kata Samsul.

Sementara Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Purwakarta, Karwasih, mengatakan, penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab BKKBN, tapi semua pihak.

“Anak yang stunting akan kehilangan daya tahan tubuh, kehilangan kecerdasan. Ini berisiko terjadinya lost generation. Akhirnya kita hanya menjadi tamu di tanah kelahiran sendiri. Tidak mampu bersaing” ungkap Karwasih.(fariel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *